BANNIQ.Id. Mamuju .Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menerima kunjungan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di Rumah Jabatan Gubernur Sulbar, Sabtu (28/3/2026).
Rudy Mas’ud hadir bersama istrinya, Syarifah Suraidah, dan disambut langsung oleh Suhardi Duka, didampingi Anggota Komisi IV DPR RI Muh. Zulfikar Suhardi, Sekda Sulbar Junda Maulana, serta sejumlah kepala OPD.
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama strategis antarwilayah, khususnya di sektor pangan dan distribusi logistik.
Dalam kesempatan itu, Suhardi Duka menegaskan bahwa Sulawesi Barat memiliki keunggulan di sektor pangan, terutama beras.
Ia menyebutkan, produksi beras Sulbar saat ini surplus sekitar 75 ribu ton per tahun, yang sebagian besar telah mengalir ke Kalimantan Timur melalui jalur perdagangan antarpedagang.
“Selama ini distribusi masih berjalan secara konvensional. Ke depan, kita dorong kerja sama yang lebih terstruktur, baik antar pemerintah (government to government) maupun melalui BUMD agar lebih efisien dan terukur,” ujarnya.
Selain beras, Pemprov Sulbar juga mulai mengembangkan sektor peternakan. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, komoditas seperti kambing diproyeksikan mengalami surplus dan berpotensi menjadi bagian dari kerja sama antar daerah.
Suhardi Duka menekankan bahwa sinergi ini diarahkan untuk saling melengkapi kebutuhan kedua wilayah tanpa berorientasi pada untung-rugi semata, melainkan pada manfaat bersama.
“Kita sepakat untuk saling bersinergi, apa yang bisa kita suplai dan apa yang bisa kita terima. Prinsipnya saling menguatkan,” katanya.
Sementara itu, Rudy Mas’ud mengungkapkan bahwa Kalimantan Timur masih mengalami defisit beras sekitar 55 persen, sehingga membutuhkan pasokan dari daerah lain, termasuk Sulawesi Barat.
Menurutnya, kedekatan geografis kedua wilayah menjadi keunggulan tersendiri dalam mempercepat distribusi logistik.
“Kita hanya dipisahkan oleh selat, sehingga potensi kerja sama ini sangat besar untuk direalisasikan,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran distribusi, salah satu opsi yang dibahas adalah penyediaan kapal cepat dengan kecepatan 25 hingga 30 knot. Dengan moda transportasi tersebut, waktu tempuh Sulbar–Kaltim diperkirakan hanya sekitar 4 hingga 5 jam.
Kapal cepat ini diharapkan menjadi sarana efektif untuk mobilisasi orang, barang, dan jasa. Bahkan, kedua pemerintah daerah membuka peluang untuk memberikan subsidi bersama guna mendukung operasionalnya.
“Dengan dukungan transportasi yang cepat, distribusi pangan dari Sulbar ke Kaltim bisa lebih optimal. Sebaliknya, Kaltim juga berpotensi menyuplai kebutuhan energi ke Sulbar,” jelas Rudy.
Selain beras dan kambing, rencana kerja sama juga mencakup komoditas lain seperti sapi, ayam petelur, hingga material bangunan.
Sinergi ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi antarwilayah./***








