BANNIQ.Id. Mamuju-Program percepatan kesehatan Quick Wins Sulbar Sehat yang digagas Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menunjukkan rapor yang kontradiktif. Meski berhasil menekan angka kematian ibu (AKI), provinsi ini masih berjuang keras melawan tingginya angka kematian bayi dan balita yang menyentuh angka ratusan kasus.
Dalam rapat evaluasi yang digelar di Mamuju, Rabu (4/3/2026), Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan bahwa upaya ini bukan sekadar tugas medis, melainkan sebuah “gerakan bersama” untuk menyelamatkan generasi masa depan Sulbar.
Rapor Merah Kematian Anak
Meskipun angka kematian ibu berhasil ditekan dari 40 kasus (2024) menjadi 36 kasus (2025), data pada kategori anak justru menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Berikut adalah rincian kasus kematian anak yang tercatat:
Kategori Usia Jumlah Kasus
Neonatus (0–28 hari) 284 Kasus
Bayi (0–1 tahun) 315 Kasus
Balita (0–5 tahun) 358 Kasus
Staf Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) DKPPKB Sulbar, Nur Lela, mengakui adanya ketimpangan tren tersebut. “Secara statistik, kematian ibu membaik. Namun, untuk kematian anak, kita masih berada di zona yang membutuhkan perhatian sangat serius,” ujarnya saat ditemui pada Kamis (5/3).
Evaluasi menunjukkan adanya ketimpangan performa antar-kabupaten. Beberapa daerah mencatatkan progres positif, namun ada pula yang justru mengalami kemunduran:
Tren Menurun: Polewali Mandar, Mamuju Tengah, Mamasa, dan Mamuju.
Tren Meningkat: Pasangkayu dan Majene.
Melalui mekanisme Audit Maternal Perinatal Surveillance and Response (AMPSR), tim medis mengidentifikasi bahwa komplikasi penyakit menjadi pembunuh utama ibu hamil, diikuti oleh pendarahan hebat dan hipertensi (preklamsia) selama masa kehamilan.
Selain faktor biologis, DKPPKB menyoroti tantangan klasik berupa keterbatasan sarana prasarana. Banyak fasilitas kesehatan di pelosok Sulbar belum memiliki perangkat standar penyelamatan bayi, seperti:
Alat Resusitasi: Untuk membantu pernapasan bayi baru lahir.
Infant Warmer: Alat penghangat untuk mencegah hipotermia pada bayi.
Alat Cek Hemoglobin (HB): Vital untuk mendeteksi anemia pada ibu hamil yang memicu pendarahan.
“Persoalannya bukan hanya pengadaan alat. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan adalah kunci. Jangan sampai alat sudah tersedia di Puskesmas, tapi petugas di lapangan gagap mengoperasikannya,” tegas Nur Lela.
Pemerintah Provinsi Sulbar saat ini tengah menggodok penetapan target baru yang lebih agresif untuk tahun 2026. Fokus utama akan diarahkan pada penguatan audit medis di setiap kasus kematian guna memetakan solusi spesifik di tiap wilayah, serta memastikan distribusi alat kesehatan tepat sasaran.
Program Quick Wins Sulbar Sehat diharapkan tidak hanya menjadi jargon politik, tetapi mampu bertransformasi menjadi sistem proteksi kesehatan yang nyata bagi ibu dan bayi di seluruh pelosok Sulawesi Barat.
Laporan :Irham








