Kadispar Sulbar Bersama Puluhan Anggota Komunitas Sepeda Minion, Gelar Tour D’ Majene Kota Tua

Hits: 162

Puluhan Anggota Komunitas Sepeda Minion Majene saat menjadi peserta giat Tour D’ Majene Kota Tua(photo:repro)

BANNIQ.Id.Majene. Kota Tua disebut demikian sebab kota Majene dikenal sebagai daerah yang menyimpan Nilai dan Jejak historis tentang dinamika Masyarakat dan Pemerintahan di Jazirah Mandar, dari era Perjuangan Kemerdekaan hingga masa Pemerintahan Bentukan Belanda,Afdeling Mandar sekitar tahun 1908.

Pada masa Pemerintahan Belanda Majene menjadi sangat strategi karena Pemerintah colonial Belanda menjadikannya sebagai pusat afdeling Mandar dalam mengakselerasi dan mengkoordinasikan berbagai kepentingan kolonialisasi ke beberapa wilayah onderafdelingnya, juga sebagai pusat pertahanan dari serangan para pejuang, untuk memaksimalkan fungsi ini bangunan seperti Tangsi Militer dan Pusat Pengendalian Pemerintahan di wilayah jajahan khususnya di Wilayah Mandar. Beberapa bangunan tersebut, hingga kini didapati di kota Majene, salah satunya adalah bangunan Rumah sakit (boyang Tomonge) , dan kini berfungsi sebagai Museum yang disebut Museum Mandar yang kini berlokasi di jalan Raden Soeradi Pangali Ali Majene , bangunan bersejarah warisan Belanda lainnya adalah : Tangsi Militer Belanda sekarang Asrama Tentara Batalyon 721, kantor Residen, Rumah kediaman Asisten Residen , kompleks pekuburan Belanda di Timbo Timbo , Kantor Asisten Residen, Pelabuhan laut, Bangunan Stasiun Radio, bekas kantor Pos Belanda rumah kediaman dan bangunan lainnya.

Bagi masyarakat yang ingin merefleksi ingatan tentang Jejak Majene dengan segala nilai histori yang dimilikinya, dapat menapak tilasi pengetahuan tersebut melalui buku” Majene Kota Tua” yang ditulis kolumnis dan peneliti Bahari Mandar,Muh.Ridwan Alimuddin.

Kadispar Sulbar, Farid Wajdi saat memimpin giat Tour D Majene Kota Tua(photo: repro)

Menariknya rencana jelajah kota tua ini direspons positif oleh salah satu komunitas sepeda di majene, adalah komunitas sepeda Minion assamalewuang majene menjadi pioneer pelaksanaan jelajah kota tua majene untuk pertama kalinya. Komunitas Sepeda minion Majene ini beranggota sekitar 40 orang telah melakukan refleksi pengetahuan sejarah Majene, melalui tour dengan sepeda yang bertajuk bersepeda Marasa tour wisata Majene Kota Tua, Minggu 27 Maret 2021.

” Giat ini selain sebagai wadah olah raga untuk menyehatkan warga kota, juga peserta diajak untuk menjelajahi Alam terbuka, menelusuri atraksi wisata yang terkait dengan peninggalan Belanda di Majene sebagai kota yang pernah didiami Bangsa Eropa kurang lebih 45 Tahun lamanya. kita juga ingin peserta bersepeda Marasa ini merasakan sensasi Jelajah Kota Tua. Sebagai pengenalan Majene sebagai salah satu destinasi wisata budaya (cultural Tourism) wisata edukasi dan yang terpenting adalah majene memiliki Historic Building bangunan bersejarah. Sehingga cocok untuk jualan pariwisata budaya dengan tagline Majene Kota Tua,” Papar Kadispar Sulbar,Farid Wajdi via gawainya,Minggu(27/3/2021).

Disebutkan pula, bahwa pelibatan komunitas masyarakat akan terus diupayahkan untuk mengembangkan pariwisata di masa yang akan datang sebagai mitra startegis dan unsur subjek atau stakeholder pariwisata. hakikatnya, berbasis pada komunitas (community based tourism) dan pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable development) dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat demikian juga dengan jelajah kampung Sabbe desa Karama Kabupaten Polman, kegiatan inipun merupakan bentuk apresiasi masyarakat terhadap program Gubernur Sulbar Marasa melalui komunitas sepede Panggoling Balanipa Mandar yang menyelenggarakan event Bersepeda Marasa menjejak titik sejarah jalur pembuatan dan perdagangan sutera Mandar di desa Karama, sebuah terletak di pesisir pantai (coastal village),penataan kampungnya Indah dan Rapi menjadikan kampung wisata ini menarik untuk dikunjungi.

Penulis buku Majene Kota Tua Ridwan Alimuddin(helm kuning yang juga menjadi peserta Tour D’ Majene Kota Tua(photo:repro)


Tour D’ Majene Kota Tua ini akan kita upayahkan untuk dikembangkan diperluas areanya bukan saja di seputar majene saja melainkan sampai ke daerah Sendana, Pamboang, Alu, Balanipa, Tinambung tergantung pada literasi, narasi yang menopang gagasan kepariwistaan menyertainya. Tour d Afdeling Mandar, ini untuk mengenang dan mengetahui daerah-daerah yang dulu masuk dalam kesatuan wilayah Afdeling Mandar. Kegiatan tour afdeling mandar ini sambung Farid, segmennya hampir sama dengan Tour de Singkarak di Sumatra. Semoga gagsan ini mendapatkan dukungan dari berbagai stakeholder utamanya pemerintah daerah Majene.

Papan Informasi Sejarah Afdeling Mandar(photo:repro)

Beberapa hari lalu Dinas Pariwista Sulawesi Barat tengah mengusulkan berbagai event untuk dimasukkan dalam kalender of Event Nasional (COE) melalui kementerian Pariwisata dan Ekonomi kreatif good newsnya salah satu yang diusulkan mendapatkan apresiasi dari panitia saat ini dalam proses kurasi untuk sampai ke COE yaitu Event Festival “ KOTA TUA” Majene. kita berdoa Bersama sama mudah mudahan perjuangan berhasil dan tembus pada 100 Event nasional sehingga dapat digelar Tahun ini .


Peninggalan Seni – Budaya ini masih dapat disaksikan terpahat di prasasti-prasasti Peninggalan Kerajaan seperti situs – situs dan Makam Raja .Warisan Budaya yang dimiliki ini bukanlah sekedar benda mati tanpa makna, namun semua Warisan Budaya ini perlu dilestarikan dan diteliti lebih dalam lagi menyangkut nilai – nilai kearifan masa lalu yang mungkin dapat diaktualisasikan kembali saat ini.

Wisatawan Pencinta TRAVELING, kami ajak anda mengesplore Majene berwisata di kota tua, menikmati Keunikan bangunan Eropa di tanah Mandar, keragaman akan budaya di Sulawesi Barat, Wisata Alam dan baharinya yang pasti akan memberikan kejutan – kejutan eksotis yang Menyenangkan bagi para Traveller yang datang ke Majene .

Setelah bersepeda mengelilingi kota Majene Tour MKT berakhir di sekitar taman kota, disana terdapat prasasti kedatangan belanda untuk pertama kalinya di Majene “A Brief Story of Afdeling Mandar” Tour ini terasa istimewa sebab diguiding langsung oleh penulis Buku Majene Kota Tua dan setiap peserta mendapatkan oleh oleh ekraf sebuah gantungan handphone yang cantik berbahan lipaq sabeq Mandar tertulis disana Bura’pia handicraft yang dibagikan oleh kumpulan orang orang kreatif binaan Tajriani.|asd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *