“Menunggu Sekda Sulbar : Mengemudi Sandeq di Samudra Pemerintahan”
Oleh: Muliadi Saleh
Penulis | Pemikir | Penggerak Literasi dan Kebudayaan
Mentari pagi belum seutuhnya muncul, saat kabut laut masih menggantung dan udara membawa aroma laut yang menembus paru-paru, sebuah perahu Sandeq mulai mengayuh takdirnya. Layar putih mengembang penuh, tali-tali tegang seperti urat nadi yang siap menyalurkan tenaga angin. Perahu itu menembus riak, menuju garis tipis antara laut dan langit. Tak ada janji di cakrawala, hanya keyakinan bahwa setiap gelombang dapat dilalui dengan selamat.
Begitulah pemerintahan daerah: sebuah pelayaran panjang di samudra kebijakan, di mana gubernur adalah nakhoda yang menunjuk arah, dan Sekretaris Daerah—Sekda—adalah juru mudi yang memegang kemudi dengan tangan yang tak pernah goyah. Satu menentukan tujuan, satu memastikan kapal tetap berada di jalurnya, meski arus kadang memaksa untuk menyimpang.
Sekda provinsi bukan sekadar pejabat tinggi yang duduk di kursi empuk kantor sekretariat. Ia adalah poros kemudi dalam kapal besar bernama pemerintahan daerah. Tanpanya, layar kebijakan gubernur hanya akan menjadi kain putih yang berkibar tanpa arah. Dalam hirarki pemerintahan, Sekda adalah penghubung antara visi politik gubernur dengan denyut operasional birokrasi. Ia memimpin koordinasi seluruh perangkat daerah, memastikan setiap dinas bergerak dalam irama yang sama, seperti dayung-dayung yang terangkat dan tenggelam dalam sinkronisasi sempurna. Di tangannya, administrasi dijalin menjadi jaring yang kuat—jaring yang tak hanya menampung hasil kerja, tetapi juga menahan robekan akibat badai kepentingan.
Hubungan gubernur dan Sekda adalah “simbiosis mutulisme maritim”. Keduanya berbeda peran, namun tak terpisahkan. Gubernur, terpilih oleh mandat rakyat, adalah pembaca bintang—ia menentukan pelabuhan mana yang akan dituju, membaca angin visi, dan mengumumkan cita-cita pembangunan. Sekda, lahir dari jalur karier birokrasi, adalah penjaga haluan. Ia menerjemahkan ‘peta politik’ menjadi peta navigasi administratif. Ia tahu di mana karang peraturan berada, bagaimana menghindari dan menyikapi pusaran masalah hukum, dan kapan harus menambah atau mengurangi kecepatan mesin. Tanpa gubernur, kapal tak punya arah. Tanpa Sekda, kapal tak punya kendali.
Di samudra birokrasi, gelombang yang datang tak pernah sama. Ada saatnya angin terlalu kencang, layar harus dikendurkan. Ada masanya laut tenang, layar perlu ditegakkan setinggi mungkin. Di tengah semua itu, Sekda bergerak seperti pelaut yang menghafal setiap tanda air, memahami kapan harus meniti ombak dan kapan harus memotongnya. Ia menjaga formasi armada agar tak tercerai-berai, membuka jalur bagi program-program pembangunan agar terhindar dari jaring yang menghambat, dan menyesuaikan kompas provinsi dengan koordinat pusat, sehingga kapal tak pernah tersesat ke perairan terlarang.
Kini, di dermaga Sulawesi Barat, ombak sedang membawa kabar baru. Tim seleksi telah menetapkan tiga nama calon Sekretaris Provinsi Sulbar, disusun dengan abjad seperti deretan layar yang siap ditegakkan: Arianto, A.P., Farid Wajdi, dan Junda Maulana. Mereka adalah orang-orang terbaik Sulbar, putra-putra yang telah ditempa ombak pengalaman, siap mengemudikan kemudi provinsi menuju laut yang lebih luas. Siapa pun yang kelak terpilih, ia akan memegang tanggung jawab bukan hanya sebagai pejabat, tetapi sebagai penjaga haluan sebuah kapal besar yang membawa harapan jutaan jiwa.
Hakikat eksistensi Sekda bukan pada sorot kamera atau tepuk tangan publik, melainkan pada ketegangan layar yang ia jaga. Ia menyeimbangkan kepentingan politik dengan tuntutan teknis, memelihara netralitas tanpa kehilangan kesetiaan pada tujuan. Ia adalah tokoh yang bekerja dalam sunyi, namun setiap keberhasilan pembangunan memantulkan bayangannya. Seperti juru mudi Sandeq yang matanya selalu ke depan, telinganya menangkap bisik angin, dan tangannya merasakan denyut kayu kemudi, Sekda selalu siaga membaca tanda-tanda perubahan: suara masyarakat, gelombang DPRD, bahkan pusaran kebijakan pusat.
Tanpa kemudi yang stabil, perahu akan oleng dan hanyut. Tanpa Sekda yang andal, pemerintahan akan kehilangan ritme. Di setiap pelayaran, ia memastikan tali kebijakan terikat erat, layar mengembang dengan tepat, dan awak kapal memahami peran masing-masing. Ketika Sandeq kembali ke dermaga, sorak-sorai sering diarahkan kepada nakhoda. Namun para awak tahu, juru mudi adalah alasan kapal itu tiba dengan selamat.
Begitu pula dalam pemerintahan provinsi: di balik sorotan kepada gubernur, ada Sekda yang menjaga keseimbangan di antara ombak kepentingan, memastikan kapal besar itu tak hanya sampai di pelabuhan tujuan, tetapi juga siap berlayar lagi ke cakrawala berikutnya. Sebab di samudra pemerintahan, cakrawala bukan garis akhir, melainkan janji perjalanan yang tak pernah selesai.
Motto :
“Menulis untuk Menginspirasi, Mencerahkan, dan Menggerakkan Peradaban”








