Kadinkes Sebut Penanganan Stunting di Sulbar, Sejak Tahun Lalu

Hits: 128

Kadis Kesehatan Provinsi Sulbar, dr.Hj.Indahwati Nursyamsi,M.Si(photo:bnq)

BANNIQ.Id.Sulbar. Prevalensi Stunting sebagai salah satu daerah yang tertinggi Kasus Stuntingnya, Provinsi Sulbar telah melakukan upaya penanganan Sejak tahun Lalu Melalui Strategi Convergensi. Strategi Convergensi tersebut merupakan upaya terpadu oleh para instansi Terkait untuk Mengatasi masalah Stunting tersebut.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, Dr.Hj.Indahwati Nursyamsi,M.Kes, Jum’at(11/7/2019), sejak dirinya masih menjadi kepala Bidang Kesmas Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, penanganan Stunting di Sulbar sudah dilakukan sejak tahun lalu.

” Untuk Stunting ini, sejak tahun lalu kita telah melakukan penanganan melalui strategi Convergensi, yakni penanganan secara terpadu oleh semua OPD sesuai arahan dari kementerian masing-masing, baik di tingkat Provinsi maupun di Lokus atau daerah penanganan Stunting tersebut,” Ujarnya.

Di Sulbar kata dokter Indah,sapaan karib Dokter Hj.Indahwati Nursyamsi, terdapat empat kabupaten yang menjadi Lokus Stunting, yakni Mamasa, Polman, Majene dan Mamuju, dan kesemua daerah tersebut telah menjalankan penanganan dengan strategi masing-masing.

” Lokus Stunting awalnya 3 Kabupaten, sekarang menjadi 4 lokus, yakni Mamuju, Majene, Polman dan Mamasa,di Polman misalnya dilakukan dengan program sekolah Pengantin, Di Majene dengan program sosialisasi hingga ke pelosok,dan Mamuju dengan Kegiatan Gala karya,” Imbuhnya.

Penanganan Stunting tersebut sambung Dokter Indah, yang dibiayai dari anggaran APBN misalnya melalui program pengadaan biskuit untuk ibu dan anak, bantuan pengadaan jamban Keluarga termasuk dari instansi lain seperti jamban Komunal, Hanya kata Dia, program tersebut tidak maksimal karena tidak tepat sasaran.

” Melalui Program APBN, program Stunting ini juga telah terprogram seperti bantuan biskuit untuk ibu dan bayi, pengadaan jamban keluarga serta Jamban komunal dari Instansi lain, hanya kadang program ini tidak tepat sasaran, misalnya program bantuan biskuit kadang mereka yang bukan sasaran dari program Stunting itu yang diberikan,kemudian bantuan jamban Komunal, ada yang didirikan di area yang tidak ada penduduk atau akses menuju jamban tersebut yang jauh,” Tandasnya.

Meskipun demikian, masih kata Dia, pihak Dinkes bersama instansi terkait, tetap secara kontinyu melakukan penekanan jumlah kasus Stunting di Sulbar.|smd

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *